Sebuah drama cinta di senja kala Majapahit.
Novel yang diangkat dari sandiwara radio tersukses 2007 yang telah disiarkan di seluruh Indonesia.
Cerita drama cinta ini diawali dengan roman diantara dua padepokan yang hidup di bawah kekuasan kerajaan Majapahit. diawali dengan cerita roman antara Endang Kusumadewi, adik Endang Puspitasari dari padepokan Indrakila dengan Mpu Janardana, seorang pendekar dari padepokan Antapura, yang merupakan kakak angkat dari Woro Kembang Sore. Endang Kusumadewi dan Woro Kembangsore sama-sama menaruh hati pada sang pendekar, Mpu Janardana.
Dikisahkan Mpu Janardana merupakan pendekar yang tampan, bijak dan gagah berani masih belum mempunyai istri, hingga suatu hari sang pendekar tersebut menemukan gadis yang bisa menaklukan hatinya. Bukan Woro Kembangsore maupun Endang Kusuma Dewi, namun kakak dari Endang Kusumadewi, Endang Puspitasari yang bisa menaklukan sang pendekar dengan kecantikan dan kedewasaanya. Dengan menikahnya Mpu Janardana dengan Endang Puspitasari, maka baik Endang Kusumadewi maupun Woro Kembang Sore yang menaruh hati kepada sang pendekar mengembara meninggalkan padepokan masing-masing.
Waktupun berlalu dengan cepat berlalu, Mpu Janardana dengan Endang Puspitasari mempunyai putra. Sang pendekarpun gusar memikirkan adik iparnya yang meninggalkan padepokan karena pernikahannya. akhirnya sang pendekarpun berniat mencari Endang Kusumadewi. Di tengah perjalanannya, sang pendekar bertemu dengan sekelompok pengembara yang menuju Ngampel Denta. Sang pendekarpun mengikuti hingga sampai di daerah Ngampel Denta. Daerah tersebut merupakan daerah yang cukup berkembang dengan ajaran Islam sebagai dasarnya. Ajaran Islam tersubut berkembang di bawah bayang-bayang kerajaan Majapahit yang agama Syiwa sebagai landasannya. Sang Pendekar pun lupa tujuan awalnya untuk mencari adik iparnya, namun belajar dan mendalami ajaran Islam. Dalam perkembangannya Mpu Janardanapun menjadi orang kepercayaan dari Raden Patah.
Raden Patah sendiri merupakan anak kandung dari Raja Majapahit ke-tujuh, Gusi Prabu Brawijaya dengan putri Cina yang kemudian sang putri Cina tersebut dihadiakan kepada Adipati Palembang. Sebagai salah satu tokoh Islam Raden Patah dan juga cucu mantu dari Sunan Ngampel Denta, maka beliau mengemban misi mulia untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Belaiau menyebarkan ajaran Islam ke daerah barat, tepatnya di daerah hutan belantara Gelagahwangi. Gelagahwangi yang notabenya masih dalam kekuasaan Majapahit.
Berkembangnya ajaran Islam di Gelagahwangi tersebut membuat gusar para patih Majapahit hingga membuat sang raja Majapahitpun menjadi gusar, namun sang Brawijaya sudah menyadiri bahwa akan ada kekuatan baru yang akan mengulingkan kekuasaan Majapahit. Namun para patih Majapahit yang merasa kekuatan baru di Gelagahwangi akan mengancam kekuasaan majapahit, maka para patih berusaha untuk menredam kekuatan tersebut. Namun para penduduk Gelagahwangi pun merasa terganggu dengan usaha para patih tersebut. Akhirnya hubungan antara Gelagah wangi dan Majapahitpun menjadi panas.
Dalam memanasnya hubungan antara Gelagahwangi dan Majapahit, roman diawal ceritapun terurai kembali. Endang Puspitasari pun menemukan sang suami Mpu Janardana yang telah menjadi pengikut setia Raden Patah dengan nama Islam Abdur Rochim. Kemudian sang Istripun mendapat hidayah untuk masuk Islam dan menjadi pengikut setia Raden Patah. Semakin memanasnya hubungan Gelagah Wangi yang dipimpin oleh Raden Patah dan Majapahit dengan raja Brawijaya, ayah Raden patah sendiri. Pada akhirnya perang besarpun tak terhindarkan. Dalam peperangan tersebut Endang Puspitasari, dan Mpu Janardana (abdur rochim) bertemu dengan Endang Kususmadewi yang menjadi salah satu pengawal pribadi adiati Pecattanda pengikut Brawijaya. Baik kakaknya ataupun kakak iparnya telah membujuk adiknya untuk menyerah dan menghentikan pertarungan antar sudara tersebut. Namun, watak Endang Kusumadewi yang keras kepala, hingga pertarunganpun tidak terhindarkan hingga kakaknya sendiri terluka, dan mati ditangan adiknya sendiri.
Diakhir pertempuran antara Gelagah Wangi dan Majapahit, yang dimenangkan oleh Gelagahwangi dan Sang Brawijayapun menghindari pertempuran dengan menyelampatkan diri ke hutan rimba bersama dayang-dayang dan beberapa pengikut setianya, salah satu diantaranya Bodan Kejawen.
Nasib Worokembang sorepun sangat malang, dimana setelah meninggalkan padepokannya, dalampengembaraanya dia jatuh cinta dengan salah satu pengikut setia sang Brawijaya, Bondan Kejawen. ketika peperangan sengit antara Gelagahwangi dan Majapahit, Bondan Kejawen pun berjanji untuk menikai Woro Kembang Sore. Namun karena kesitiaan bondan Kejawen kepada Sang Brawijaya, Bondan Kejawen pun lupa dengan janjinya kepada Worokembang Sore. Woro kembang sorepun tewas terpahan dalam pertempuran Gelagahwangi dan Majapahit.
Novel Ini cukup apik dalam menceritakan sejarah babat tanah jawi. Dengan tata bahasa modern dan alurnya yang menarik membuat novel ini tidak bosan untuk dibaca. Novel yang menceritakan runtuhnya Majahpahit ini cukup menarik untuk dibaca bagi anak muda maupun dewasa, karen bumbu-bumbu kisah roman dan berapa cerita sejarah sangat tertata dengan baik.
akhir kata novel ini mendapat rate (4*/5*).