Senin, 10 September 2012

Uniquely Ramadan, Uniquely Gresik

Gresik telah lama dikenal sebagai kota santri, kota wali, kota industri dll. paling khas dari gresik adalah ketika ramadan tiba, apalagi ketika 10 hari terakhir. ke khasan gresik akan semakin terlihat. kenapa, karena di minggu terakhir ramadan gresik punya event" khas gresik. diantaranya :


1. Malam 23 ramadan : Sangring/"Kolak ayam" di desa Gumeno, Manyar, Gresik.
2. Malam 25 ramadan : Malam Selawe, di desa Giri, Kebomas, Gresik.
3. Malam 27 ramadan : Pasar dan Lelang Bandeng Alun-Alun Gresik.

Pertama, SANGRING "Kolak Ayam", kuliner berhasiat


Tradisi kolak ayam hingga kini sudah berlangsung 484 tahun. Awal mula kolak ayam ini muncul ketika Sunan Dalem (Putra dari Sunan Giri, Raden Paku) sakit. Sunan Dalem memerintahkan warga mengupayakan obat agar sakitnya bisa sembuh.

Namun setelah ke sana ke mari dicarikan obat tak kunjung sembuh. Saat penduduk bingung, Sunan Dalem mendapat petunjuk Allah agar membuat masakan untuk obat. Esok harinya Sunan Dalem membawa seekor ayam jago berumur sekitar setahun atau jago lancur.

Akhirnya penduduk membawa seekor ayam jago untuk dimasak dengan santan kelapa, jinten, gula merah dan bawang daun. Setelah masakan jadi Sunan Dalem meminta warga membawa nasi dan ketan yang sudah masak. Saat itu bulan puasa ketika tiba waktu Maghrib Sunan Dalem dan semua penduduk berbuka bersama di masjid.Berkat kemurahan Allah Sunan Dalem sembuh setelah makan kolak ayam atau sanggring.

Sanggring berasal dari kata sang berarti raja atau penggedhe dan gering artinya sakit. Sanggring berarti raja yang sakit. Kolak ayam berasal dari kholaqul ayyam yang berarti mencari berhari-hari. Sunan Dalem mencari nama jamu itu dan berhari-hari belum ketemu nama yang pas, akhirnya justru kolak ayam menjadi nama yang diabadikan sampai kini.

Proses memasak kolak ayam pertama kali dilaksanakan pada masa Sunan Dalem pada 22 Ramadhan 946 hijriyah atau 31 Januari 1540. Sunan Dalem juga berwasiat kepada penduduk agar setiap malam 23 Ramadhan disiapkan kolak ayam atau sanggring. Komposisi bumbu untuk setiap ekor kolak ayam disediakan 2 kilogram bawang daun yang baunya menyengat, 2 kg gula merah dan 1 ons jinten.

Jinten digoreng tanpa minyak lalu ditumbuk agar rasa dan harumnya tidak hilang. Jumlah dan kualitas jinten berpengaruh pada rasa dan aroma masakan. Semakin banyak dan bagus kualitas jinten kolak ayam makin enak.

sumber; http://travel.kompas.com/read/2009/0...Ayam.di.Gresik

2. Malam Selawe, malam iktikaf


Malam ke-25 bulan suci Ramadan merupakan malam yang khusus bagi warga Gresik khususnya sekitar makan Sunan Giri di Desa Giri, Kecamatan Kebomas. Ini saatnya banyak peziarah, terutama sejak malam ganjil di seperti terakhir bulan Ramadan. Puncaknya adalah malam ke-25 atau malam selawean. Para peziarah bukan hanya warga Gresik, tetapi dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Muhammad Basir (59), warga Giri yang sudah delapan tahun jadi penerima tamu di makam Sunan Giri, mengatakan, kegiatan malam selawean mengikuti amalan Sunan Giri saat iktikaf di masjid untuk berdoa mendapatkan lailatul qodar, sesuai ajaran Islam. “Setelah Sunan Giri wafat, amalan tersebut dilanjutkan warga sekitar Giri, kemudian menyebar ke seluruh umat Muslim,” ujar Muhammad Basir, Rabu ( 24/8/2011).

Hari-hari ini, warga Giri juga punya tradisi lain, yakni membuat makanan atau jajanan berupa ketupat ketan. Bahannya tentu saja beras ketan. Ketupat ketan itu untuk disantap bersama sanak saudara yang berkunjung ke rumah mereka. Lely Yusfeni, warga Desa Giri, menuturkan, “Biasanya saudara-saudara dari luar Giri yang berkunjung diberikan ketupat ketan dengan dicampuri gula merah dan kelapa.”

Sementara itu, di sepanjang jalan menuju makam Sunan Giri terlihat banyak penjual. Menurut Basir, itu terjadi karena umumnya para peziarah makam membutuhkan makan sahur. Maklum, mereka bisa berdiam di kompleks makam sepanjang malam.

Selain untuk makan sahur, peziarah umumnya juga mencari oleh-oleh untuk sanak saudaranya. Itu sebabnya, warga Giri pun memanfaatkan permintaan itu dengan berjualan di sepanjang Jl Sunan Giri. “Dulu awalnya yang berdagang juga sedikit, sekarang sudah berkembang,” imbuhnya

sumber: http://www.surya.co.id/2011/08/25/ke...malam-selawean

3. Pasar dan Lelang Bandeng, Jejak Ekonomi peninggalan Waliyullah.


Tradisi warisan Walisongo yang hingga kini masih dilestarikan. Yaitu tradisi menggelar Pasar Bandeng di pusat kota Gresik. Tradisi ini pertama kali diadakan oleh Sunan Giri untuk mengangkat perekonomian rakyat setempat. Kala itu, di abad 15 Sunan Giri mulai membantu perekonomian masyarakat dengan cara mengolah dan memasarkan hasil bumi. Hingga kini, masyarakat Gresik masih melestarikan warisan Sunan Giri yaitu dengan membuat dan menjual kue Pudak dan penyelenggaraan Pasar Bandeng.

Adanya Pasar Bandeng ini untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Sehingga, pada hari lebaran tiba, hampir seluruh penduduk kota Gresik makan dengan menu utama bandeng dengan berbagai macam olahan. Dengan demikian, para petambak bandeng terus bisa membudiadayakan tambak bandengnya. Dan di sisi lain, masyarakat Gresik bisa menikmati hasil bumi kekayaan daerahnya. Penyelenggaraan Pasar Bandeng oleh Pemerintah Gresik ini selain untuk melestarikan tradisi, juga untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat Gresik. Seperti kita ketahui bahwa, Kabupaten Gresik berada di daerah pesisir pantai utara berbatasan dengan Lamongan, dan sebagian wilayah berdekatan dengan Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya . Letak geografis ini menjadikan daerah Gresik sebagai daerah yang baik untuk budidaya tambak bandeng dan udang. Budidaya tambak bandeng dan udang ini sudah menjadi penghidupan sebagian besar warga Gresik, utamanya yang berada di daerah dekat pantai utara.

Pasar Bandeng digelar pada dua malam terakhir sebelum malam takbiran. Berbagai ukuran bandeng dengan berat dari ukuran beberapa ons hingga seberat 9Kg/ekor lebih dijual di sini. Untuk lebih menyemarakkan suasana pasar dan memberi semangat kepada petambak bandeng, diadakan lelang bandeng terbesar. Lelang ini diadakan pada saat pembukaan Pasar Bandeng di hari pertama. Mengenai pemenang lelang tahun ini, Haidar, salah seorang penjual bandeng mengatakan, “Bandeng terbesar seberat 9Kg dibeli oleh Gus Ipul seharga Rp.5 juta milik orang Mengare, Bungah”. Menurut warga setempat, diakui bahwa bandeng yang enak berasal dari Mengare, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Karena lokasi Mengare yang berdekatan dengan pantai sehingga bandeng tidak mengandung bau tanah, dengan kata lain lebih gurih.



Ada prestise tersendiri bagi penduduk Kota Gresik yang merayakan lebaran dengan suguhan menu bandeng ukuran besar. Ibaratnya, tidaklah merayakan lebaran kalau tidak ada suguhan bandeng di rumah. Ukuran besarnya bandeng seolah juga menentukan gengsi tersendiri bagi sebuah keluarga. Namun hal ini tidak menimbulkan kesenjangan yang berarti di antara warga setempat, hanya bila mampu membeli bandeng dengan ukuran besar apa salahnya. Tetapi bila mampu membeli bandeng dengan ukuran kecil pun tidak mengapa, yang penting hidangan bandeng tersedia di hari merayakan kemenangan umat muslim ini.

Sumber: http://www.jelajahbudaya.com/kabar-b...aliyullah.html





Tidak ada komentar: