Jumat, 16 Maret 2012

5 cm.


Cover yg menarik dan artistik.
Novel ini terbit pertama di Mei 2005, tentunya moment ‘booming’-nya novel ini sudah terlewat ketika saya membaca ditahun 2012 ini. Hemmm....
.... semua itu nggak bakal ada artinya lah ketika saya membaca novel ini. Novel ini mengajak pembaca berimajinasi mengikuti alur crita 5 persahabatan anak metropolis, Genta, Riani, Arial, Zafran, dan Ian. Di bagian prolog novel ini, Dhonny Dhirgantoro dengan apik menceritakan watak dari setiap tokoh dalam novel ini, hingga 5 tokoh utama dalam novel ini hidup nyata di sekitar kita.
Membaca kata demi kata, novel ini bagus dalam menceritakan alurnya. Dalam penceritaannya Dhonny sering menggunakan bahasa ‘slank’ yang terkadang ‘lebay’ ala anak muda jaman sekarang, dalam pendeskripsiaan setting dan mimik dari tokoh dalam cerita ini. Hal tersebut cukup membantu pembaca untuk berimajinasi kedalam kehidupan sehari-harinya. Dari sini terlihat bahwa segmentasi novel ini untuk pembaca muda hingga pembaca dewasa, yang masih sering menggunakan gaya bahasa ‘slank’.
Bagian awal dari novel ini, menceritakan bagaimana kebosanan sekelompok anak muda dalam menjalani kehidupan sehari-hari di Kota Jakarta. Kuliah, nongkrong, canda tawa serta ideologi dari sekelompok mahasiswa yang selalu dilakukannya bersama-sama. Hingga suatu saat, Genta, sang ketua kelompok, memberikan ide untuk melakukan hal yang tidak biasa dilakukan oleh kelompok ini. Tanpa sepengetahuan yang lain Genta merencanakan sebuah perjalanan bersama ke luar kota. Perjalanan tersebut lebih dari perjalanan yang biasa, namun sebuah perjalanan hati, perjalanan keyakinan, perjalanan nasionalisme, dan perjalanan kebersamaan yang mengetarkan hati. Dhonny mengajak pembaca merasakan sesaknya kereta ekonomi, enaknya pecel madiun dan nasi gudeg, serta keindahan alam selama perjalanan. Perjalanan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa metropolis tersebut menuju puncak tertinggi pulau Jawa. Puncak Mahameru.
Bagi pembaca yang belum mengetahui keindahan alam di puncak Mahameru, novel ini dengan apik mendeskripsikan hal tersebut. Namun, deskripsi keindahan alam Mahameru dalam novel ini belum cukup mewakili keindahannya di puncak Mahameru yang hanya dapat dinikmati dengan menempuh perjalan yang tidak mudah. Fisik, keyakinan dan tangungjawab menjadi aspek penting yang harus diatur selama perjalanan menuju pucak Mahameru. Dengan aspek tersebut dan keyakinan untuk mencapai puncak Mahameru yang digantungkan tepat 5 cm di depan mata maka sekelompok tersebut dapat mencapai puncak tertinggi di pulau Jawa tersebut. Hingga di akhir perjalanan mereka menemukan nasionalisme, kebersamaan, serta keteguhan untuk mencapai asa.
Dalam novel ini mencoba memberikan banyak pembelajaran bagi pembaca bahwa keyakinan atas cita-cita kita akan memberikan energi tersendiri untuk mencapai cita-cita tersebut. oleh karena itu, secara eksplisit novel ini mengatakan bahwa gantukan cita-cita mu tepat 5 cm di depanmu dan railah (berusahalah meraihnya). Maka cita-cita tersebut akan terwujud.

Tidak ada komentar: